Profil

  

Demo plant Smart Micro Grid (SMG) Sumba ditujukan sebagai tempat untuk pengkajian penetrasi pembangkit energy baru terbarukan (EBT) ke grid dengan skala penetrasi yang cukup besar. Pembangkit EBT yang digunakan pada kajian ini adalah pembangkit dari sel (modul) fotovoltaik dengan kapasitas daya terpasang sebesar 500 kWp.SMG terdiri atas, sub-sistem PV 500 kWp, smart Genset 2×135 kVA, batere VRB 2×240 kWh, serta sub-sistem kontrol dan data komunikasi. Keluaran SMG terhubung dengan grid pada jaringan 20 kV. Sub-sistem PV 500 kWp terhubung dengan 5 unit inverter jenis PV-grid kapasitas daya masing-masing 100 kW. Sistem SMG Sumba ini diresmikan pada

Karena karakteristik pembangkit listrik dari fotovolatik (PV) yang intermittent, yakni sangat bergantung kepada intensitas cahaya yang datang, maka ketika diintegrasikan kejala-jala (grid) harus di-backup oleh sumber pembangkit atau penyimpan energi yang mampu mensubtitusi penurunan daya yang dihasilkan modul PV dengan segera. Pada system Smart grid Sumba, sebagai backup dari sub-sistem PV digunakan sub-sistem penyimpan energi, berupa flow baterai VRB (Vanadium Redox Battery) dengan kapasitas 500 kWh yang dilengkapi dengan PCS (Power Conversion System) berkapasitas 2×240 kW. Selain sub-sistem baterai, pada Smart Grid Sumba juga dilengkapi backup berupa pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), yaitu smart genset yang dilengkapi fitur untuk kendali jarak jauh, kapasitas genset yang dipasang sebesar 2×135 kVA.

Untuk mengintegrasikan ketiga sub-sistem (PV, baterai, dan Smart genset) ke grid diperlukan sistem monitoring dan kontrol yang memadai. Oleh karenanya pada Sistem Smart Grid Sumba digunakan teknologi ICT (Information & Control Technology). Sistem ini kemudian disebut sebagai sub-sistem SCADA (Supervisory Control And Accusition Data) yang berfungsi memonitor semua sub-sistem Smart Grid Sumba dan juga system kelistrikan PLN Sumba Barat (PLTD Waitabula, PLTD Wikabubak, dan PLTMH Lokomboro).

                                smart grid

                                Gbr1. Skematiksistem “smart micro grid ” di Kab. Sumba Barat Daya  

Pada gambar 1 ditunjukkan secara skematik sistem “smart micro grid” yang dibangun pada system kelistrikan Kabupaten Sumba Barat Daya. Sistem yang dibangun terdiri atas pembangkit listrik dari sumber energy terbarukan, yakni PLTS dan PLTMH yang masing-masing berlokasi di Bilacenge dan Lokomboro, pembangkit listrik konvensional (PLTD) yang berlokasi di daerah Waitabula dan Waikabubak, sub-sistem penyimpanan energy listrik (battery bank, VRB), sub-sistem pengendali (controller), dan sisi pengguna (konsumen). Keseluruhan sub-sistem dikendalikan atau di control melalui media satelit (VSAT) yang terpusat di daerah Bilacenge, yakni lokasi pembangunan sub-sistem PLTS. 

PLTMH Lokomboro interkoneksi dengan PLTD Waikabubak. Saat ini antara Waitabula dan Waikabubak telah terhubung pada system tegangan 20 kV, sehingga system kelistrikan di Sumba Barat telah didukung oleh ketiga system pembangkit. Pada tahun 2011 mulai di bangun PLTS Bilacenge dengan kapasitas photovoltaic sebesar 500 kWp. Pada tahun 2013 sistem PLTS Bilecenge diserah terimakan operasinya kepada PLN. Pembangunan jalur transmisi 20 kV untuk menghubungkan Sumba Timur dengan Sumba Barat sedang berlangsung.