BPPT Bekerjasama dengan PLN, PJCI dan PII Akan Mengadakan Seminar Smart Grid dan Aspek Cyber Security dalam Power System di Tanggal 17 Oktober 2017 Mendatang

     Perkembangan teknologi dan kemajauan di segala sektor perpengaruh terhadap peingkatkan permintaan konsumsi energi listrik. Peningkatan konsumsi energi di Indonesia yang besar dan cepat menyebabkan peningkatan permintaan kapasitas pembangkitan. Di sisi lain semakin menipisnya cadangan bahan bakar fosil serta adanya isu perubahan iklim menuntut setiap negara untuk beradaptasi agar ketahanan energi serta kelestarian lingkungannya dapat terjaga. Peningkatan permintaan energi seiring dengan pertumbuhan ekonomi mengakibatkan adanya penambahan pembangkit, saluran transmisi, dan distribusi sehingga jaringan kelistrikan menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu diperlukan adanya efisiensi dalam pengoperasian jaringan kelistrikan dan dukungan terhadap upaya-upaya konservasi pengunaan energi listrik.

  Jaringan listrik cerdas (smart grid) merupakan salah satu solusi agar sistem kelistrikan yang komplek mampu mengakomodasi pembangkit dari energi terbarukan yang intermittent dengan prosentase penetrasi yang cukup besar serta beban-beban besar yang hanya terkoneksi pada periode-periode tertentu. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan jaringan kelistrikan. Upaya konservasi energi yang memerlukan adanya partisipasi aktif dari konsumen dengan konsep demand response dapat diimplemetasi pada smart grid. Perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan kontrol modern menjadi salah satu pendorong dimungkinkannya penerapan smart grid.

    Pada system 500 kV dan 150 kV, saat ini system jaringan sudah menggunakan system loop dan teriterkoneksi. Namun pada jaringan distribusi 20 kV dan 400 V kebanyakan masih menggunakan system jaringan radial. Artinya energi listrik mengalir dari jaringan distribusi ke konsumen. Sementara informasi mengalir satu arah dari meter ke utilitas yang secara manual dibaca oleh meter dan ditransmisikan kembali ke utilitas penyedia listrik. Ke depan dengan penerapan jaringan cerdas energi listrik mengalir dari banyak arah, dari pembangkit ke jaringan atau bangunan, dari kendaraan listrik ke bangunan, dari utilitas ke konsumen, dari konsumen ke penyedia utilitas, dan seterusnya. Jaringan informasi dibangun untuk menciptakan komunikasi antara utilitas dengan manusia atau antar utilitas.

Jaringan cerdas memanfaatkan teknologi TIK dalam memonitor dan mengatur penyediaan listrik dari sumber pembangkit sampai ke konsumen. Teknologi TIK berperan penting dalam mendukung sistem komunikasi dua arah dan real time dalam sistem kelistrikan. Untuk menghubungkan berbagai jenis perangkat dan pengguna dalam suatu sistem sehingga dapat saling berkomunikasi dalam jaringan cerdas maka dibutuhkan protokol standar yang didukung oleh semua jenis perangkat, dalam hal ini internet protocol (IP). Jaringan cerdas membutuhkan protokol internet dari ujung ke ujung dan keamanan dalam sistem transportasi datanya. Jaringan cerdas harus memiliki dasar infrastruktur komunikasi yang sangat kuat dan IP menjadi salah satu teknologi pendukungnya.

  Sejak diperkenalkannya, teknologi smart grid telah diterapkan di banyak negara, meskipun begitu, belum jelas teknologi komunikasi mana yang cocok diterapkan pada smart grid. Hal ini terjadi karena aplikasi smart grid yang berbeda membutuhkan sistem komunikasi yang berbeda terkait bandwidth, tingkat sampling, latensi dan reliabilitas jaringan komunikasi data yang digunakan. Sebagai contoh, kebutuhan komunikasi data untuk memastikan kehandalan gardu induk (substation) tidak sama degan kebutuhan aplikasi data demand response pada manajemen energi pelanggan perumahan.

  Dengan terkoneksinya komponen-komponen jaringan kelistrikan pada jaringan internet menyebabkan smart grid menjadi lebih rentan terhadap ancaman dan serangan cyber. Serangan cyber bisa menyerang komponen fisik jaringan kelistrikan seperti open/close circuit breaker dan mematikan generator. Selain itu, serangan cyber bisa menyerang software dan database sistem baik itu untuk merusak data ataupun mencuri informasi. Teknologi cyber security seperti antivirus, firewall, sistem pencegahan intrusi, system hardening, dll menjadi sebuah kewajiban untuk melindungi smart grid dari serangan cyber. Oleh karena itu, pada seminar akan dibahas jenis, potensi, dan pengaruh serangan cyber pada sistem kelistrikan dan langkah-langkah preventif yang perlu dilakukan.

Maksud dan Tujuan Seminar ini adalah

ØMerumuskan urgensi penerapan smart grid

ØMengindetifikasi kebutuhan teknologi informasi dan komunikasi pada masing-masing aplikasi smart grid

ØMengidentifikasi ancaman dan serangan cyber pada smart grid

ØMengidentifikasi serangan cyber pada jairngan kelistrikan yang telah terjadi di negara-negara lain.

ØMengidentifikasi kebutuhan teknologi cyber security yang diperlukan pada smart grid.

(lanjastek)

spacer

Leave a reply